Cerita Rakyat Bangka Belitung : Nipah Bekurung
Cerita Rakyat Bangka Belitung : Nipah Bekurung - Tak habis-habisnya kalau berbicara tentang keunikan dari Pulau Belitung. Pulau yang merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini merupakan pulau eksotik yang mempunyai aneka ragam budaya, keindahan alam, hasil pertanian, dan pertambangan bahkan cerita rakyat Belitung. Dari keanekaragaman eksotik yang dimiliki oleh Pulau Belitung, mungkin cerita rakyat Belitung inilah yang jarang sekali digarap.
Oleh karenanya, cerita rakyat belum begitu banyak tersebar ke permukaan. Kalau pun tersebar, cerita rakyat ini hanya beredar dari mulut ke mulut dan hanya dikonsumsi oleh daerah setempat saja. Padahal kalau kita mengetahui, kandungan isi cerita rakyat biasanya berisi pedoman dan pesan hidup yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat Indonesia.
Aneka ragam cerita rakyat ini sangat disayangkan, apabila lenyap terhapus zaman. Dengan luasnya Pulau Belitung, tentu saja, cerita rakyat ini akan begitu panjang terkumpul. Sebab cerita rakyat ini tersebar dari daratan hingga pesisir, dari Barat hingga ke Timur Pulau Belitung. Untuk itu, perlu dilakukan inventarisasi cerita rakyat agar berguna bagi generasi muda untuk melek dengan cerita rakyatnya sendiri.
Dalam penelusuran terhadap cerita rakyat di daerah pesisir Belitung Timur, Kecamatan Gantung ditemukan sebuah cerita yang turun temurun terpendam. Cerita ini mengambil suatu objek pohon, yaitu sebuah pohon yang bernama nipah. Menurut kamus Bahasa Indonesia, Nipah adalah sejenis pohon golongan palem yang tumbuh subur di pinggiran muara.
Daun yang lebar biasanya digunakan masyarakat untuk kerajinan tangan, seperti atap rumah, keranjang, tikar, topi, dan masih banyak lagi. Sedangkan sadapan bunganya bisa menghasilkan nira bahan baku gula dan minuman beralkohol. Dari beberapa manfaat dan struktur fisik pohon nipah, dalam masyarakat Belitung, pohon nipah menyimpan suatu cerita tersembunyi yang kental dengan dunia mistis atau tak kasat mata. Untuk tidak berlama-lama dan mengetahui jalan ceritanya, simak dan bacalah cerita rakyat yang berjudul Nipah Bekurung.
Pada masa itu, peradaban di Pulau Belitung khususnya bagian Timur, terkhusus di Kecamatan Gantung saat ini bisa dibilang begitu tradisional. Ketradisonalan adat dan budaya itu tampak pada berkembangnya kepercayaan terhadap dinamisme dan animisme dalam masyarakat saat itu. Masyarakat tidak hanya bergantung pada hubungan sosial, melainkan juga bergantung dengan kekuatan alam itu sendiri.
Bumi begitu makmur, hasil laut melimpah ruah. Semua berkecukupan, tak ada yang sengsara. Asal semua saling menghormati.
Keseimbangan antara alam dan hidup manusia terus terjaga sehingga alam tidak murka dan memberikan kenikmatan bagi manusia. Hal itu terus berlangsung bertahun-tahun hingga anak cucu berikutnya. Akan tetapi sejak peristiwa itu, peristiwa dimana masuknya peradaban baru.
Peradaban itu membawa sistem baru. Mengubah sifat dan gaya hidup manusia. Budaya lama menjadi tergerus sehingga manusia dan alam tak mampu saling menopang, yang ada hanya kerusakan terhadap alam.
Alam menjadi murka. Hubungan antara dunia dengan alam tak sejalan lagi. Sifat serakah manusia terhadap alam menjadikan persahabatan antara alam dan manusia retak.
Beberapa bencana silih berganti menimpa kaum manusia. Korban tak memandang apakah dia berbuat atau tidak. Sejak peristiwa itu, ruh alam tak bisa terbendung keluar dari tempat persembunyiannya. Perjanjian telah terlanggar.
Mereka mengintai, mengawas, berbaur, bahkan memusnahkan. Apalagi semenjak para perompak hilir mudik di Sungai Lenggang, mereka memberangus setiap apa yang dilewatinya. Air sungai yang jernih berubah merah menandakan kehadiran mereka. Padahal sebelum kedatangan mereka, Sungai Lenggang memiliki air yang jernih dan bersih.
Dengan bersihnya Sungai Lenggang, sungai ini menjadi tempat orang mengadu nasib, yaitu sebagai pusat perdagangan, perikanan, dan pertanian masyarakat. Selain itu, muara sungai merupakan pintu gerbang sosialisasi dengan budaya luar. Sehingga Sungai Lenggang merupakan pelintasan bagi kapal-kapal asing yang bebas keluar masuk ke Kota Gantung (sekarang).
Akan tetapi, banyak orang setempat meyakini bahwa pada suatu tempat di muara Sungai Lenggang yang banyak ditumbuhi mangrove/atau bakau dan nipah menyimpan suatu misteri. Misteri ini dikarenakan sekumpulan pohon nipah yang tumbuh membelah aliran Sungai Lenggang menjadi dua bagian. Satu bagian menuju kota dan yang satu bagian menuju sungai-sungai kecil. Dengan adanya pembagian wilayah itu, masyarakat beranggapan bahwa satu bagian yang tidak terjamah manusia itu adalah wilayah ruh nenek moyang yang melindungi alam dan tidak boleh diganggu.
Dikarenakan ketidakharmonisan itu, ruh nenek moyang yang bernama Puteri Tesambat keluar dari kediamannya. Dengan didampingi pengawal setianya Nala, jelmaan buaya muara, mereka berbaur berdampingan dengan manusia. Siang itu, terik matahari begitu menyengat.
Perbedaan suhu dikedua tempat yang berlainan itu menyebabkan Nala yang berilmu rendah selalu gelisah. Melihat Nala yang selalu gelisah, Puteri Tesambat tak henti-hentinya tertawa. “Bolehkah saya berenang sejenak, Tuanku?” sahut Nala terus memohon.
Nala yang ilmunya di bawah Puteri Tesambat sedikit demi sedikit kulit tubuhnya menampakkan sisik seperti buaya. Agar penyamaran mereka tidak diketahui kaum manusia, Puteri Tesambat memberikan selendang suteranya kepada Nala. Tanpa disadari tubuh Nala kembali sediakala menyerupai manusia. “Nala, bersemedilah dengan serius dan lebih lama lagi!” pesan Puteri Tesambat.
Setelah mengatasi persoalan yang dihadapi pengawalnya selesai, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pusat keramaian.Tak jauh dari pandangan mereka, betapa terkejutnya mereka menyaksikan perkembangan desa. Pembangunan di mana-mana.
Aktivitas yang diperlihatkan masyarakat menjadi warna bagi mereka. Karena aktivitas seperti ini tidak dijumpai di wilayah mereka. Namun perkembangan itu tidak diikuti dengan kearifan lokal.
Siang itu, Puteri Tesambat begitu bahagia. Banyak penduduk menyapa dan terpikat kepadanya karena Puteri Tesambat bagai bidadari yang singgah ke bumi. Namun dibalik kebahagiaan itu, tersimpan hati yang miris dan hancur saat sang puteri mendatangi sebuah warung yang tak jauh darinya.
Warung itu begitu ramai. Ramai dengan kaum laki-laki berperangai besar dan urakan sedangkan beberapa wanita sibuk melayani dengan penuh rasa senang. “Apa-apaan ini! Apa yang mereka perbuat?” Puteri Tesambat berbisik kepada Nala.
Saat Puteri Tesambat dan Nala hendak duduk dan memesan sesuatu. Mereka mengamati dan mengawasi perilaku orang-orang yang ada di dalam warung. Tiba-tiba dari hadapannya, seorang laki-laki dengan percaya dirinya datang menghampiri Puteri Tesambat dan Nala.
Dengan memperhatikan gelagatnya, Puteri Tesambat tahu bahwa yang dihadapannya itu adalah bukan orang sembarangan. Puteri Tesambat beranggapan bahwa dia adalah seorang pemimpin dalam kelompok orang yang sedang bermabuk-mabukan. Tanpa ada rasa menghormati, Laki-laki itu menyodorkan minuman memabukan kepada Puteri Tesambat dan Nala.
“Minumlah, sayangku,” bersuara lantang laki-laki itu bergumam dengan mulut yang berbau minuman keras. Puteri Tesambat tak bergeming, dia menikmati hidangan yang ada dihadapannya. Sedangkan Nala sudah tak sabar untuk menghabisi laki-laki itu.
Tapi dengan isyarat yang diberikan Puteri Tesambat, Nala mengurungi niatnya dan kembali tenang sambil mengunyah makanan yang ada di tangannya. Dengan sikap tak peduli yang tunjukkan oleh Puteri Tesambat, laki-laki itu menunjukkan rasa tidak sukanya dengan berteriak, “Haha...hebat sekali, mereka tidak tahu siapa yang ada di hadapan mereka.”
Teman-teman laki-laki itu pun siap bersiaga saat pimpinannya berteriak. “Hey...kalian tahu, siapa saya? Saya Kulub Melampun, pemimpin perompak yang menguasai lautan,” dengan penuh emosi Kulub Melampun berteriak di hadapan keduanya. Dengan sikap yang sama tanpa bergeming, Puteri Tesambat dan Nala beranjak dari mejanya dan hendak meninggalkan suasana yang tidak nyaman lagi bagi mereka.
Saat Puteri Tesambat dan Nala berusaha menjauh, beberapa anak buah Kulub Melampun mengejar dan menangkapnya. Mengetahui tuannya diperlakukan seperti itu, perasaan Nala yang sedari tadi penuh dengan amarah itu, mengeluarkan suatu ajian yang tak disadari orang-orang sekelilingnya. Tiba-tiba, Nala mengeluarkan ekornya dan mengibaskan ke beberapa penyanggah hingga merobohkan warung.
Dengan robohnya bangunan itu orang-orang berlarian berusaha menyelematkan diri. Banyak orang terluka bahkan ada korban yang berjatuhan. Saat perompak tersadar dengan peristiwa itu, Puteri Tesambat dan Nala telah lenyap bagai angin yang tak berjejak. Dari kejadian itu, Kulub Melampun menaruh dendam kesumat
Sebulan berlalu, sejak peristiwa itu, dua orang kakak beradik terlihat sedang meratapi dua gundukan tanah dengan penuh khusuk. Tetes air mata deras tak terbendung dari kedua bersaudara itu. Mereka begitu merindukan kedua orang tuanya.
Mereka belum siap untuk ditinggal pergi oleh orang tuanya secepat itu. Apalagi usia mereka sekitar tujuh dan lima tahun. Telah berjam-jam mereka duduk bersila.
Hanya perut yang kosong yang dapat mengusik kekhusukan mereka memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya yang sudah tiada. “Kak, lapar,” sahut Senuno sambil memegang perutnya. Kakaknya yang bernama Sekakar beranjak dari duduknya dan mengamati sekeliling daerah setempat untuk mendapatkan setitik harapan.
Tanggung jawab sekarang berada di tangannya. Padahal belum sepantasnya Sekakar seperti orang dewasa. Seumuran mereka harusnya bermain bersama dengan teman-temannya. Oleh karenanya, kakak sulung ini bergumam dalam hati untuk membalas kepergian orang tuanya menghadap Yang Maha Kuasa. “Ayo, Dik, kita pergi!” jawab sang kakak mengakhiri ziarah di makam orang tuanya.
Kedua saudara tersebut tidak menyadari bahwa sedari tadi mereka sedang diamati oleh dua pasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Puteri Tesambat dan Nala terus mengekori kedua saudara tersebut yang ternyata berjalan menuju pusat keramaian, yaitu pasar. Tampak jelas seorang kakak yang bernama Sekakar itu berusaha melindungi adiknya yang sedang kelaparan. “Kau tunggu di sini, jangan kemana-kemana, Kakak mencari sesuatu yang dapat kita makan,” bisik Sekakar.
Sekakar pergi meninggalkan adiknya sendirian. Dengan sekejap, Sekakar lenyap pada kerumunan orang-orang. Sekakar dengan tajam melirik, mengais, bahkan tak segan meminta-minta kepada orang-orang yang ditemuinya.
Melihat kesusahan yang dihadapi dua saudara tersebut, muncul rasa iba dari Puteri Tesambat. Puteri mendatangi Senuno yang masih berusia lima tahun itu. Dengan tangan yang penuh makanan, Nala menyerahkan begitu banyak makanan kepada Senuno.
Seperti anak kecil umumnya, melihat makanan yang begitu banyak di hadapannya, Senuno tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. “Terimakasih, Tuan,” ucap Senuno. “Beritahu kakakmu untuk tidak perlu mencari makanan beberapa hari ke depan, banyaklah bersyukur atas nikmat yang diberikan” Puteri Tesambat berpesan.
Walaupun tak mengerti maksud yang disampaikan, Senuno hanya bisa membalas dengan ucapan terimakasih. Puteri Tesambat dan Nala pergi meninggalkan Senuno dengan penuh senyuman. Kebahagiaan itu semakin bertambah saat Sekakar menjumpai adiknya, “Dari mana Kau dapat semua ini?” Senuno pun menjelaskan panjang lebar peristiwa itu.
Dalam perjalanan pulang, tak disangka mereka bertemu oleh gerombolan Kulub Melampun. Ada rasa takut dari kedua saudara itu ketika gerombolan itu menghentikan langkah mereka. “Dari mana Kalian memperoleh banyak makanan itu?” jawab seorang yang berperangai jahat.
Orang itu sebenarnya adalah Kulub Melampun yang sedari tadi sudah menaruh curiga. Kulub Melampun masih menyimpan dendam saat peristiwa itu. Kedua saudara itu tak menjawab satu kata pun karena takut kepada mereka.
“Hey bocah siapa namamu?” Kau boleh juga,” mengarahkan percakapan kepada Sekakar sambil menepuk kepalanya. “Sekakar,” jawabnya. Senuno memegang erat tangan Sekakar. “Maukah Kau ikut bersama kami? Haha...kalau kau ikut kalian tak akan kesusahan lagi, pikirkanlah Sekakar!” ujar Kulub Melampun dengan penuh rayuan.
Sebab mereka sedang mencari anggota baru dikarenakan beberapa anak buahnya menjadi korban. “Kalau jodoh, kita akan berjumpa lagi,” sahut Kulub Melampun. Akhirnya Mereka pun berpisah. Masih dengan perasaan takut, Senuno dan Sekakar mengambil langkah seribu dan dengan nafas yang tersengal-sengal mereka sampai digubuk peninggalan orang tua mereka.
Tanpa berpikir panjang ditambah lagi dengan perut yang lapar, mereka melahap makanan yang diberi Puteri Tesambat. Sudah lama mereka tak makan lezat seperti ini semenjak kematian orang tua mereka. Karena kekenyangan, keduanya tertidur pulas.
Hari ketiga sejak pertemuan pertama itu, kedua saudara itu dikejutkan dengan ketukan pada gubuk mereka. Sebab selama ini, mereka tak pernah dikunjungi orang. Dengan mata yang masih dalam keadaan kantuk yang berat, dibukakanlah pintu oleh Sekakar.
Dua sosok telah berdiri dihadapan Sekakar, sosok itu adalah laki-laki dan perempuan yang belum pernah dijumpainya. Sekakar mempersilakan masuk kedua orang tersebut. Senuno yang masih tidur pun terjaga karena obrolan mereka.
Senuno mengamati kedua tamu mereka, tetapi dia pun tak mengenalinya. Padahal kedua orang yang dijumpai itu adalah Puteri Tesambat dan Nala yang mengubah wujudnya agar tidak dikenali. “Dimana orang tua kalian?” tanya Puteri Tesambat.
Sekakar sebagai anak sulung menjelaskan peristiwa yang dialami kedua orang tua mereka. “Menurut orang-orang, orang tua kami meninggal dikarenakan tertimpa bangunan saat sedang bekerja di warung dekat pasar dan menurut banyak orang warung itu roboh karena orang yang memiliki ilmu yang hebat.” Wajah Nala berubah pucat mengingat kejadian itu.
Karena dia menyadari, peristiwa jatuhnya korban adalah perbuatannya. Puteri Tesambat langsung menyatakan kedukaan yang mendalam dan menjernihkan suasana menjadi nyaman kembali. “Ini saya bawakan banyak makanan untuk kalian.”
Melihat apa yang dibawa oleh Puteri Tesambat, Senuno langsung memakannya. Melihat adiknya tampak bahagia, Sekakar tersenyum, walaupun di hatinya menyimpan dendam terhadap kematian orang tuanya. Karena di masa kecil, dia harus bertanggung jawab menjaga adiknya layaknya orang tua.
Menyadari sesuatu yang gelap menyelimuti Sekakar, Puteri Tesambat hanya bisa berpesan kepada kedua anak tersebut, “Jadilah anak yang baik, yang berguna bagi orang banyak, dan melindungi sesama saudara. Orang tua kalian akan bahagia di alamnya, jika melihat kalian saling menolong.” Mendengar pesan itu, kedua saudara itu saling bertatapan dan berusaha memahaminya. Puteri Tesambat dan Nala pun menyampaikan salam perpisahan kepada kedua saudara itu.
Dua tahun sejak pertemuan dengan kedua orang yang baik itu, Sekakar dan Senuno tak pernah lagi dikunjungi Puteri Tesambat dan Nala. Sudah lama sekali mereka tidak menikmati makanan enak. Keadaan kembali menjadi normal, Sekakar dan Senuno menjadi anak kesepian dan sibuk dengan aktivitas sediakala.
Sibuk bekerja mencari sesuap nasi. Suatu hari yang dingin, sang fajar merangkak di celah timur, kokokan jago mengalun-alun, Sekakar dan senuno sudah menyambut pagi ini dengan turun ke sungai untuk mencari beberapa ikan. Sampan peninggalan bapak sudah lama tidak digunakan.
Bersama Senuno, mereka berlayar mengarungi Sungai Lenggang untuk yang pertama kali. Di sela melepas tali tambatan perahu, tetangga yang melihat mereka berpesan untuk hati-hati sebab keadaan desa sulit ditebak. Apalagi banyak perompak dan bencana yang mengintai.
Kedua saudara itu pun mengingat dan memahami pesan itu. Sampailah mereka di depan pintu muara, terlihat bentangan lautan yang luas untuk pertama kalinya. Angin saat itu tidak terlalu kencang, laut terlihat bersahabat.
Tak berlama-lama menyiapkan alat pancingan dan tak perlu jauh melempar pancingan karena alam memberikan kemudahan rejeki. Tak ayal beberapa kali melempar kail, ikan-ikan berukuran besar sudah penuh di atas sampan. “Ayo Kak, kita pulang!” ucap Senuno. Sekakar melihat raja siang saat itu sudah menampakan hidungnya.
Saat memutar sampan, suasana terik tadi seketika berubah gelap. Muncul perasaan takut dari kedua saudara tersebut. Ketika mereka memutar kepala ke belakang ternyata suatu benda yang besar sekali berada tepat di arah belakang sampan mereka.
“Hati-hati, Kak! Kita akan ditabraknya,” teriak Senuno. Dengan cekatan Sekakar mengayuh dayungnya menyingkir dari kapal besar tersebut. Setelah selamat dari musibah itu, Sekakar memperhatikan dan mengawasi kapal besar tersebut. Terdengar suara teriakan untuk menghentikan sampan. Tampak mereka menurunkan kapal kecil dan mendayung ke arah dua saudara tersebut.
“Sembunyi Senuno, cepat!” bisik kakaknya. Senuno pun bersembunyi pada tumpukan ikan yang telah mereka tangkap. Saat sampan mereka beriringan, seorang yang berjenggot tebal mengamati sampan Sekakar dan berkata, “Kamu sendiri, ayo ikut kami!” terngiang dalam pikirannya sejak dua tahun yang lalu saat Sekakar bertemu dengan seorang laki-laki berperangai jahat.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa ragu-ragu, Sekakar mengikuti permintaan mereka. Entah apa yang dipikirkan Sekakar, dia lupa bahwa adik yang semata wayang ditinggalkan sendiri di atas sampan. Sampan yang ditempati Senuno terombang ambing tak berarah.
Suasana begitu sunyi, yang terdengar hanya gemercik air sungai menghempas sampan, Senuno pun muncul dari persembunyiannya. “Kakak, dimana kamu? Mengapa kau tinggalkan Aku?” Senuno bergumam dan bersedih.
Sewaktu kesedihan melanda Senuno, sesuatu menabrak sampan Senuno. Sesuatu yang menabrak sampan tersebut menyebabkan sampan menjadi terarah lajunya. Dengan sedikit merasa takut, dilihatlah oleh Senuno yang menyebabkan perahu itu melaju cepat.
Alangkah terkejutnya Senuno saat melihat sejumlah buaya sedang mengawalnya ke suatu tempat yang begitu asing. Hutan mangrove dan nipah sangat rimbun sekali, sehingga sinar matahari tak dapat menembus dalamnya sungai.
Suasana begitu menyeramkan, Senuno masuk ke daerah yang terdalam. Akhirnya, sampailah Senuno pada suatu tempat yang tak membuat dirinya bisa mengedipkan mata. Beberapa bangunan yang terbuat dari logam mulia dan dilengkapi dengan taman yang indah penuh dengan batu permata tepat berada di hadapannya dan pijakan kakinya.
“Wah bagus sekali,” ujar Senuno dengan penuh kekaguman. “Selamat datang di kediaman kami wahai anak manusia,” seberkas cahaya tiba-tiba berubah menjadi sesosok perempuan yang tinggi gemulai telah berada di samping Senuno.
Sontak Senuno kaget dan menangis. “Jangan menangis! Masih ingatkah kau kepada kami?” Perlahan Senuno menegakkan kepalanya, dia melihat wajah yang tak asing. Setelah diingat-ingat barulah Senuno menyadari bahwa orang yang selama ini menolong mereka sekarang tepat berada di hadapannya.
Rasa rindu yang memuncak dipeluklah Puteri Tesambat. Dalam perjalanan menuju kediaman Puteri Tesambat, mereka bercengkrama. Senuno banyak bercerita tentang keadaanya setelah ditinggal pergi oleh mereka. Dan dia menceritakan suatu peristiwa yang sedih dan menakutkan karena baru saja ditinggal pergi kakaknya.
Di sisi lain, Sekakar bertemu dengan Kulub Melampun. Sekakar diangkat menjadi anak Kulub Melampun karena bapak angkatnya hanya memiliki anak perempuan. Sekakar menikmati hidup bersama perompak.
Semenjak bergabung dengan perompak, hidup Sekakar bergelimang harta dan kesenangan. Untuk menjadi pemuda yang kuat dan pemberani, Sekakar dilatih keras untuk menguasai ilmu bela diri dan ilmu menggunakan senjata tajam. Namun dibalik kehidupan yang serba berkecukupan, Sekakar menyimpan keinginan untuk mendapatkan suatu kebenaran tentang kematian orang tuanya.
Dia beranggapan bahwa yang menjadi penyebab kematian orang tuanya itu adalah para perompak. Akan tetapi, gerak-gerik Sekakar sebenarnya sudah lama diketahui bapak angkatnya, Kulub Melampun. Untuk itu, Kulub Melampun memberikan latihan fisik yang berat kepada Sekakar agar dapat membantunya membalas dendam kepada seseorang perempuan yang telah menyakiti hatinya.
Latihan yang dilakukan Sekakar berlangsung bertahun-tahun hingga Sekakar menjadi remaja yang tangguh. Berbagai ilmu bela diri dan penggunaan senjata tajam habis dikuasaimya. Dengan menjadinya Sekakar sebagai anak emas Kulub Melampun, suatu peristiwa di balik tembok istana perompak yang mungkin tidak bisa dilupakan oleh Sekakar, saat anggota perompak berbincang membicarakan ketidaksukaan kepada Sekakar dengan menjelek-jelekan masa lalu Sekakar yang ditinggal mati orang tuanya karena bapak angkatnya sendiri.
Kebenaran yang terkuak sedikit demi sedikit membuat Sekakar geram dan marah. Di sela waktu yang sedikit luang, Sekakar menghadap bapak angkatnya, “Sekakar mengucapkan terimakasih kepada Bapaknda yang telah membesarkan saya seperti sekarang ini, namun.....” Ciat Sekakar dengan cepat melesat loncat ke singgasana bapak angkatnya. Dengan pedang yang ada pada tangannya, sekakar menebas apa yang ada di depan matanya, yakni Kulub Melampun.
Setinggi-tingginya ilmu murid, masih ada yang jauh lebih tinggi. Dengan mudahnya Kulub Melampun menepis semua serangan Sekakar, dan sebaliknya Sekakar malah terdesak. “Kau semakin hebat Sekakar, tak salah Saya selalu berharap kepadamu, haha....” “Mengapa Kau tertawa, hukumlah Saya,” teriak Sekakar.
Dengan beberapa pukulan bersarang di perut Sekakar. Terjadi perdebatan antara mereka berdua. “Kau telah membunuh kedua orang tuaku,” suara dari hati yang terdalam keluar dari mulut Sekakar yang selama terpendam bertahun-tahun.
Seisi ruangan terdiam, mendengar celoteh Sekakar. Suasana yang hening itu pecah ketika Kulub Melampun tertawa keras, “Haha...” “Kamu pikir saya yang membunuh orang tuamu.” Akhirnya, Kulub Melampun menceritakan kebenaran cerita itu.
Kulub Melampun mengakui bahwa dirinya penyebab terjadinya peristiwa itu. Tetapi yang menyebabkan robohnya bangunan itu dan banyak menelan korban jiwa itu bukanlah karena Kulub Melampun. Dia berusaha membela diri dengan memberitahukan bahwa di tempat kejadian itu ada dua orang dicurigai.
Orang itu adalah penyerang yang tak kasat mata dan tidak masuk akal. Sekakar mendengarkan dengan penuh keseriusan. Dan dia merasa terkejut, ketika bapak angkatnya itu meyebutkan seorang perempuan dan seorang laki-laki.
“Jadi Sekakar, Kau telah mendengar kisah ini, bertahun-tahun kami menuntut balas, tapi belum menemukan kedua orang ini.” Pikiran Sekakar seakan menerawang ke masa lalu, ingatan kepada orang yang diakuinya baik itu ternyata musuh selama ini dicari.
Senuno, adik semata wayang dikorbankan demi mencari para perompak itu. “Bunuhlah Saya, Bapak!” teriak Sekakar. Mendengar permintaan itu membuat Kulub Melampun tak dapat menahan tawa. “Haha..., Sekakar, Anakku, Kau harus tahu mengapa dirimu dibiarkan hidup karena Kaulah sumber dari pencarian kami,” ujar Kulub Melampun.
Sekakar menjadi bingung, tetapi setelah diberitahu bahwa bapak angkatnya sudah lama mengawasi dua saudara itu kerap sekali berhubungan dengan orang asing yang disebutkan itu. Demi untuk memuluskan rencana itu, Saya memeliharamu agar menjadi kuat dan siap membalaskan dendam.
“Sekakar, ingat luka itu tidaklah sesakit dibandingkan dendam di hatimu, bersiap-siaplah, saya akan memberikan tanggung jawab yang berat ini kepadamu.” Tugas pertama yang akan diemban Sekakar adalah melakukan penyerangan dan membuat onar di kota-kota kecil. Hal ini dilakukan untuk memancing keberadaan dua orang asing itu.
Keberingasan dan kekejaman Sekakar terhadap daerah yang dilewati melebihi bapak angkatnya. Rumah-rumah dan tempat berkumpul habis dijarah dan dibakar. Banyak orang tak berani keluar bahkan tempat-tempat usaha ditutup.
Korban bisa ditemukan di mana-mana bagi yang menentang. Anak buah Sekakar menjadi sangat senang karena pendapatan dari merampas dan menjarah jauh meningkat. Kekejaman Sekakar akhirnya sampai ke telinga Puteri Tesambat.
Mendengar hal itu, Puteri Tesambat bukan main geramnya. Dia mengutus Nala dan pasukannya untuk melihat keadaan di luar. Nala dan pasukannya dengan segera melaksanakan perintah PuterI Tesambat.
Belum lama keluar dari wilayah kekuasaannya, Sungai Lenggang sudah berbau amis dengan darah. Nala pun segera kembali dan melaporkan kebenaran keadaan di luar. Semakin murkalah Puteri Tesambat.
Melihat perbedaan perilaku Puteri Tesambat, Senuno mencari tahu kegelisahan Puteri Tesambat. Selama dirawat Puteri Tesambat, Senuno menjadi orang yang tampan, kalem, dan santun. Puteri Tesambat pun tak berdaya saat Senuno juga ikut merasakan kesusahan Puteri Tesambat.
Dan pada akhirnya, Puteri Tesambat menceritakan kekesalannya bahwa sekian lama hidup berdampingan dengan dunia luar baru kali ini terjadi musibah besar yang tak bisa dimaafkan. “Musibah apa, Tuanku, sehingga tidak bisa dimaafkan,” ujar Senuno.
Puteri Tesambat kemudian melanjutkan ceritanya bahwa ada seorang anak muda yang bernama Sekakar mempunyai perilaku lebih kejam dibandingkan dengan perompak-perompak sebelumnya. Dia begitu hebat sehingga dijuluki raja samudera.
Perbuatannya telah melebihi batas kemanusiaan. “Tunggu, Tuanku namanya Sekakar,” Senuno menghentikan percakapan Puteri Tesambat. Senuno merasa tak asing mendengar nama yang disebutkan tadi.
“Mengapa, Senuno, apakah kau kenal dengan nama yang Ku sebutkan itu?” Senuno termenung dan berpikir tak mungkin saudaranya berbuat seperti itu. Untuk meyakini apa benar Sekakar yang disebutkan tadi adalah saudaranya, Senuno memberanikan untuk keluar menemui Sekakar. Dengan ragu, Puteri Tesambat akhirnya mengijinkan Senuno pergi.
Untuk pertama kali sejak belasan tahun, akhirnya Senuno keluar melihat dunia tempat tinggalnya. Banyak perubahan yang terjadi di desa tempat mereka tinggal. Banyak pembangunan di desa, tetapi terjadi kekacauan di mana-mana.
Banyak penduduk semakin menderita, semenjak desa tempat tinggalnya menjadi persinggahan perompak. Senuno melanjutkan perjalanan menapak tilas desanya. Saat mendatangi lokasi tempat tinggalnya, dia terkejut di atas tanah peninggalan orang tuanya berdiri rumah yang tak dikenalnya lagi.
Saat memperhatikan rumah itu, dari kejauhan, terdengar suara tawa orang yang lagi bersenang-senang. Mendengar kemeriahan itu, Senuno terpikat untuk mendatanginya. Di depan warung Senuno dikejutkan dengan sapaan orang di belakangnya, “Orang baru, ya?”
Senuno tak membalas dan menuju meja kosong untuk sejenak melepas lelah dan mencari informasi tentang Sekakar. Saat meneguk segelas air, betapa kaget Senuno saat sekawanan orang memanggil orang yang menyapanya tadi dengan sebutan Sekakar. “Haha...ayo habiskan minuman kalian,” teriak Sekakar.
Belasan tahun tak jumpa, tentunya perubahan fisik dua orang kakak beradik yang sudah lama tak jumpa banyak berubah. Di luar dugaan Senuno, betapa dekatnya dia sekarang dengan kakaknya. Perasaan senang bercampur sedih karena kakak yang menjadi contoh teladan sekarang memiliki sifat yang berkebalikan dengan dirinya.
Tak terasa air mata menetes jatuh di atas meja, Senuno memperhatikan kakaknya yang telah lama menghilang. Melihat tatapan mata tertuju pada pimpinannya, anak buah Sekakar berceletuk, “Hey, apa yang Kau lihat?” Semua orang yang tadi bergembira seketika hening.
Tak ada yang berani mengusik keheningan itu, Sekakar pun beranjak dan memerintahkan anak buahnya untuk menjemput orang asing itu. Dengan sikap sedikit memaksa, anak buah Sekakar berhasil membawa Senuno. Sekarang semakin dekatnya Senuno dengan kakaknya, Senuno ingin rasanya memeluk dan membawanya pulang untuk kembali hidup seperti sedia kala.
Tapi ada perasaan khawatir kalau-kalau Sekakar tak mengingatnya lagi. “Apa maksudmu? Melihatku begitu. Apakah kau mengenaliku?” tanya Sekakar. Kesabaran Senuno pun ada batasnya, saat penjagaan yang lengah, Senuno berhasil mendekati kakaknya dan memeluknya.
“Kau takkan kulepas lagi, Kakak,” bisik Senuno. Sekakar terkejut bukan kepalang, orang yang sedari tadi dimarahinya adalah adiknya. Tak ayal air mata kedua dari mereka tak terbendung. “Kau udah besar Senuno,” jawab kakaknya. “Maafkan Aku, Aku sengaja meninggalkanmu.”
Mereka akhirnya bersama kembali dan duduk berbincang-bincang melepas kangen. Tak ada siapapun yang berani mengganggu mereka. Dari pertemuan itu, mucullah sikap licik dari Sekakar terhadap adiknya.
Sekakar menggali informasi sedalam-dalamnya dari sang adik. Saat sang adik menceritakan kehidupannya yang penuh ketenangan dan kebahagiaan saat dirawat oleh Puteri Tesambat. “Di mana tempat tinggalmu selama hidup itu, Dek?” tanya Sekakar. Senuno menjelaskan bahwa tempat tinggalnya sebenarnya tak jauh dari desa.
Kehidupan di sana seperti halnya masyarakat di desa. Cerita dari adiknya membuat Sekakar tak sabar untuk mendatangi kediaman Puteri Tesambat. Sekakar ingin menuntut balas dan merampas semua yang dimiliki Puteri Tesambat.
Karena tak terbiasa minum minuman memabukan, Senuno tertidur pulas. Sekakar melihat wajah adiknya yang tampak tenang. Sulit rasanya untuk mencelakakan hidup adiknya, tetapi karena sudah terselimuti sifat angkara murka, Sekakar melupakan arti persaudaraan itu. Diam-diam, Sekakar mengutus anak buahnya mengabari Kulub Melampun untuk bersiap-siap melakukan penyerangan ke wilayah Puteri Tesambat.
Pagi menjelang, Senuno terjaga. Hanya ada Senuno dan Sekakar serta pemilik dan pelayan warung. Senuno beranjak, bergegas, dan berpamitan kepada Sekakar.
Sekakar seakan-akan tak mampu menghalangi kepergian adiknya itu. Dengan terburu-burunya Senuno pergi meninggalkan saudaranya itu, petanda awal dari musibah besar yang tak terbayangkan bagi kehidupannya dan Puteri Tesambat. Secara perlahan-lahan, Senuno diikuti oleh anak buah Sekakar.
Dan pada saat melintasi lebatnya pohon nipah, anak buah Sekakar merasa seperti melewati dimensi antar ruang. Karena merasa takut, anak buah Sekakar memberikan tanda kepada armada kapal untuk mendatanginya. Tak menunggu waktu yang begitu lama, mereka berhasil memasuki wilayah Puteri Tesambat. Secara perlahan-lahan mereka menyusuri tikungan-tikungan sempit yang dipenuhi binatang melata.
Senuno berhasil bertemu kembali dengan Puteri Tesambat dan mengabari pertemuannya dengan saudara laki-lakinya itu. Akan tetapi Puteri Tesambat bukannya senang, dia beranjak dari duduknya dan berteriak, “Wahai pengikutku bersiaplah, kita kedatangan musuh, mereka mencoba merusak dan menghancurkan tempat kita.” Senuno bingung sekali melihat banyak warga berlari-lari terburu-buru mengambil senjata dan bahkan menampakkan wujud aslinya.
Seperti bunyi tiupan terompet, para pengikut Puteri Tesambat sudah pada posisinya untuk mempertahankan wilayahnya. Senuno hanya terdiam, dia merasa dialah penyebab semuanya itu. Tak ada lagi sapaan dari Puteri Tesambat, mereka seperti membenci Senuno.
Ketika Senuno terdiam karena perasaan bersalah, Puteri Tesambat melemparkan pedang ke hadapannya. Puteri Tesambat menguji Senuno apakah berpihak padanya atau tidak. Melihat hal itu, muncul perasaan senang dan bahagia di hati Senuno. Tanpa berpikir panjang Senuno menggapai pedang itu dan berjuang bersama Puteri Tesambat untuk melawan Kakaknya sendiri.
Pertempuran tak terelakan, persiapan matang untuk melawan mahluk tak kasat mata oleh Kulub Melampun dan Sekakar betul-betul sempurna. Penggunaan orang pintar seperti dukun sangat dibutuhkan mengalahkan mereka. Banyak dari kedua belah pihak menjadi korban.
Sekakar yang sangat berapi-api akhirnya bertemu dengan Puteri Tesambat. Dengan pedang yang siap menghunus, Nala dengan sigap menangkis serangan dengan ekornya yang kuat. “Kau lah yang telah membunuh kedua orang tuaku,” teriak Sekakar. “Benar, kalau kau mau membalas dendam bunuhlah aku!” balas Nala.
Ternyata ilmu keduanya sangat berimbang, sekali lengah akan berbahaya bagi keduanya. Karena tenaga manusia ada batasnya, Sekakar hampir terbunuh oleh tebasan ekor Nala. Untung di samping Sekakar ada Kulub Melampun yang berkorban diri dengan melindungi Sekakar dengan badannya.
Kulub Melampun terpelanting dan memuntahkan darah dari mulutnya. Melihat bapak angkatnya terluka, tenaga Sekakar seperti kembali sediakala. Dengan lompatan, tendangan, dan tebasan yang mematikan, Nala akhirnya mati tertusuk oleh pedang yang sudah diberi doa-doa dari orang pintar.
Melihat sahabatnya terbunuh, Puteri Tesambat berpesan kepada Senuno, “Tetaplah hidup Senuno, saya takkan lama lagi hidup, tentukanlah pilihan terbaikmu mana yang benar dan salah, jagalah hubungan baik antara duniamu dengan dunia kami.” Setelah merapal beberapa doa, suatu keanehan terjadi tiba-tiba gerbang pintu masuk ke dunia manusia tertutup.
Tertutupnya pintu dunia dengan dunia tak kasat mata, diiringi dengan merunduknya pohon nipah pada dua bagian, yaitu tepi dan tengah sungai. Seiring dengan merunduknya nipah, sesuatu hawa dingin menyelimuti wilayah Puteri Tesambat. Para perompak termasuk Sekakar berjatuhan karena tak mampu bernafas. Kapal yang ditumpangi karam dan tenggelam.
Saat Senuno melihat untuk terakhir kalinya Puteri Tesambat, Sekakar dengan sisa kekuatan terakhirnya tertawa bahagia, “Haha...saya puas umak, bapak semua telah berakhir, Senuno jaga dirimu baik-baik, maafkan Saya tak bisa lagi menjagamu.” Semua yang disayangi hilang pada hari itu juga.
Senuno pun memilih untuk tinggal di dalam nipah bekurung dan berusaha menepati janji yang diberikan Puteri Tesambat untuk menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia tak kasat mata. Keberadaan Nipah bekurung sampai saat ini masih terlihat di aliran Sungai Lenggang. Penduduk setempat meyakini bahwa jika para nelayan atau pelayar tak sengaja melewati Nipah Bekurung akan mengalami kesesatan dan tak kan kembali kedunia.
Untuk itu kita sebagai pembaca dapat mengambil hikmah bahwa kehidupan yang kita jalani di dunia sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan alam, oleh karena itu manusia hendaknya dapat saling menjaga dan menghargai. Berikutnya sesama saudara saling melindungi dan tidak saling menghianati, bersihkan hati dari penyakit berupa dendam yang dapat merugikan orang lain. Terakhir hiduplah berdampingan dengan orang baik agar hidup menjadi lebih baik bukan mendekati lingkungan yang jahat karena akan membentu karakter yang jahat pula.
Demikianlah Cerita Rakyat Bangka Belitung : Nipah Bekurung, semoga terhibur.

Posting Komentar untuk "Cerita Rakyat Bangka Belitung : Nipah Bekurung"